Serang — Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Serang turut menghadiri Kegiatan Seba Baduy 2026 yang digelar khidmat di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, pada Sabtu, 25 April 2026 pukul 19.30 WIB. Tradisi tahunan masyarakat adat Baduy ini menjadi momentum silaturahmi, penyampaian amanat adat (pikukuh karuhun) dan seserahan (hasil bumi), sekaligus penguatan hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah.
1552 Warga Kanekes yang terdiri dari Baduy Luar dan Baduy Dalam diterima langsung oleh Bapak Gede (Gubernur Banten) untuk kemudian didengar aspirasinya. Tamu kehormatan wakil negara sahabat, antara lain: Duta Besar Iran, Bosnia dan Herzegovina, Palestina, Wakil Duta Besar Rusia, dan Konsulat Amerika Serikat turut hadir dan mengikuti prosesi Seba sebagai bagian dari pelestarian tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Turut hadir Mardiana Gustanti selaku Ketua Tim Fungsi Informasi dan Komunikasi sebagai perwakilan dari BBPOM di Serang yang hadir sebagai tamu undangan. Kehadiran tersebut merupakan bentuk dukungan BBPOM di Serang terhadap pelestarian budaya lokal serta sinergi lintas sektor dalam mendukung sinergitas antara pemerintah dan masyarakat.
Seba sendiri adalah puncak acara di mana warga Baduy membawa hasil bumi sebagai persembahan kepada pemerintah setempat (Bapak Gede). Sebelumnya, Masyarakat Baduy harus melakukan puasa Kawalu. Setelah puasa selesai dan panen, mereka melakukan ngalaksa, untuk kemudian dilanjutkan dengan ngarampes berupa penyiapan hasil panen untuk persembahan. Dalam penghantaran hasil bumi, masyarakat Baduy melakukan ritual Lalampah dari Desa Kanekes hingga sampai di Gedung Negara. Tradisi ini rutin dilaksanakan setiap tahun setelah masa panen, biasanya pada bulan Safar dalam penanggalan adat atau sekitar April–Mei. Seba dimaknai sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus bentuk ketaatan dan kesetiaan masyarakat adat terhadap pemerintah Republik Indonesia.
Keseluruhan prosesi Seba Baduy sarat nilai spiritual, sosial, dan ekologis. Dalam bincang dengan Pemerintah (Bapak Gede), Puun (pemimpin tertinggi dalam struktur adat masyarakat Baduy Dalam) dan Ki Jaro Oom bergantian memberikan pengingat bijak, "Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak" (Gunung harus tetap hijau, dan lembah atau tanah garapan harus dirawat agar tidak tercemar), Leuweung teu meunang dirambah" (hutan tidak boleh dirambah atau ditebang sembarangan . untuk menjaga hutan tutupan (hutan tua) sebagai sumber air dan paru-paru lingkungan), dan "Lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung" (jika panjang tidak boleh dipotong, dan pendek tidak boleh disambung, yang bermakna hidup apa adanya, menerima pemberian alam, tidak mengubah bentang alam secara ekstrem, dan tidak serakah).
Pelaksanaan Seba Baduy 2026 tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga ruang dialog antara adat, pemerintah, dan masyarakat global. Kehadiran para duta besar menunjukkan bahwa tradisi Baduy memiliki nilai universal dalam menyuarakan harmoni, kearifan, dan pelestarian alam.
Melalui dukungan terhadap kegiatan ini, BBPOM di Serang menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam kegiatan strategis kemasyarakatan, termasuk yang mendorong penguatan budaya, kolaborasi, dan pembangunan berkelanjutan.